Sambutan Kepala Madrasah

Selasa, 13 November 2018

CPNS dan Potret Buram Lapangan Pekerjaan Kita

Oleh: Dadan Rizwan Fauzi, S. Pd
Alumni PKn UPI dan  Mahasiswa Parcasarjana Universitas Pendidikan Indonesia

Akhir-akhir ini berita lowongan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat terutama, para pencari kerja. Setelah Empat tahun tidak dibuka karena ada program moratorium, akhirnya lowongan CPNS kembali dibuka pada tahun ini. Kehadiran test CPNS yang saat ini sedang berjalan bagaikan oase di gurun pasir bagi para pencari kerja. 

Lowongan CPNS tersebut memberikan secerca harapan bagi masyarakat di seluruh tanah air yang mengidam-idamkan menjadi abdi negara. Pasalnya setiap warga Negara memiliki hak yang sama dalam memperebutkan formasi CPNS tanpa membedakan agama, ras, suku dan golongan. Selain itu hak warga Negara untuk mengikuti seleksi tersebut juga dijamin oleh konstitusi yang tertuang dalam UUD 1945 Pasal 27 Ayat (2), yang menyatakan bahwa "Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan".

Pada lowongan CPNS tahun ini tersedia ribuan formasi dari berbagai instansi pusat maupun daerah. Seperti yang dilansir oleh www.liputan6.com terdapat 76 K/L dan 525 pemda yang resmi mengumumkan pembukaan seleksi CPNS 2018, dengan jumlah total formasi tersedia 238.015. Berdasarkan perhitungan tersebut, 51.271 posisi di antaranya akan ditempatkan di pemerintah pusat. Sementara 186.744 lainnya diperuntukkan bagi instansi daerah. Adanya persebaran lowongan CPNS di berbagai instansi di pusat maupun di daerah menjadi magnet tersendiri bagi para pencari kerja.

Potret angka Pengangguran
Ketatnya persaingan dalam seleksi CPNS tidak dapat terhindarkan, hal tersebut dapat terlihat dari data Badan Kepegawaian Negara ( BKN) yang dimuat dihalaman kompas.com, tercatat sebanyak 4.436.694 akun pelamar di situsweb sscn. bkn.go.id, dan ada sebanyak 3.627.981 orang yang akan menjalani tahapan verifikasi oleh instansi terkait dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dalam seleksi administrasi yang dirilis oleh BKN.

Fenomena ini tidaklah mengherankan, mengingat jumlah pengangguran di Indonesia masih cukup besar. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia per Februari 2018 berjumlah 6,87 juta orang atau 5,13%. Angka ini turun sekitar 2% dibandingkan dengan Februari 2017 yang berjumlah 7,01 juta orang atau 5,33%. Jika dilihat menurut tingkat pendidikan, maka persentase pengangguran tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebesar 8,92%. Sedangkan untuk pendidikan SD ke bawah angkanya 2,67%, lalu sekolah menengah pertama (SMP) 5,18%, sekolah menengah atas (SMA) 7,19%, diploma I-III sebesar 7,92%, dan Universitas 6,31%.

Meskipun secara data statistik tingkat penggangguran di Indonesia mengalami penurunan, namun secara keseluruhan angka pengangguran ini masih bisa dikatakan cukup tinggi. Hal ini disebabkan karena tidak sesuainya kompetensi ilmu dengan kebutuhan di dunia kerja dan kualifikasi yang dimiliki. Selain itu, tidak seimbangnya lapangan pekerjaan yang tersedia dengan banyaknya jumlah tenaga kerja yang terserap masih menjadi faktor utama.

Kemudian, penyebab utama tingginya pengangguran terlebih pengangguran terdidik yang bergelar sarjana adalah mindset ketika lulus dari perguruan tinggi, sebagian besar lulusan perguruan tinggi hanyalah berkeinginan menjadi pencari kerja (job-seeker) dan jarang yang berkeinginan menjadi pencipta kerja (job-creator) sehingga seringkali mengesampingkan kemampuan dan potensi diri para sarjana yang sesungguhnya.

Disisi lain, sebagian masyarakat Indonesia masih terpengaruh budaya feodalisme yang menganggap bahwa PNS merupakan pekerjaan yang aman, terjamin serta prestisius. Potret dan pemikiran yang berkembang di masyarakat tersebut mengakibatkan setiap kali ada formasi CPNS selalu di tunggu oleh semua pihak. Hal ini mengakibatkan pasar tenaga kerja kita stagnan, karena masih banyaknya orang yang sudah bekerja di swasta masih tetap ikut CPNS, bahkan sampai ada yang menganggur demi menunggu CPNS.

Kegagalan Dunia Pendidikan
Meskipun terdapat ribuan orang berbondong-bondong untuk mengikuti seleksi CPNS namun kenyataanya hanya sedikit yang lolos. Hal ini menunjukkan bahwa, dunia pendidikan kita belum mampu menyiapkan para lulusannya untuk memiliki karakteristik dan kemampuan diri sesuai dengan yang dinginkan oleh pemerintah melalui PerMen PAN RB No 37 Tahun 2018 tentang passing grade atau nilai ambang batas peserta lolos ke tes selanjutnya adalah dengan rincian nilai 143 untuk TKP, 80 untuk TIU dan 75 untuk TWK.

Selain itu, potret dunia pendidikan kita juga belum mampu menciptakan sumber daya manusia yang berjiwa entepreneur yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan baru, sehingga para lulusan ini selalu bergantung terhadap kebijakan pemerintah mengenai lowongan pekerjaan. Akibatnya, banyak para sarjana yang setelah lulus pusing untuk mencari pekerjaan, banyak yang menjadi pengangguran intelektual yang bukan lagi disebut mahasiswa namun juga belum mendapatkan pekerjaan .

Tingginya jumlah pengangguran terdidik dan tidak meratanya persebaran jumlah lapangan kerja di berbagai wilayah tersebut memberikan warning kepada semua pihak untuk menangani permasalahan pengangguran, karena apabila tidak diantisipasi secara cepat dan tepat akan menjadi bom waktu. Dampaknya, jumlah angka ketergantungan dan angka kriminalitas semakin meningkat akibat semakin tingginya kesenjangan sosial dimasyarakat.

Dengan demikian sudah seharusnya visi dan misi pendidikan diperbaiki dan disesuaikan dengan tuntutan perkembangan zaman, di mana perlu keahlian untuk bertahan hidup. Pemerintah perlu membuat formulasi kebijakan pendidikan berbasis penciptaan lapangan pekerjaan bukan orientasi siap kerja. Sehingga lulusan lembaga pendidikan tidak selalu terpaku dengan lowongan pekerjaan seperti CPNS saja,  namun mereka harus mampu menjadi solusi dalam mengangkat perekonomian rakyat ditengah carut marutnya sistem lapangan pekerjaan yang ada.