Sambutan Kepala Madrasah

Jumat, 30 Juni 2017

Peran Guru PKn Dalam Mencegah Disorientasi Pancasila

Oleh: Tubagus Saputra, S.Pd.
Pegiat Pendidikan Kewarganegaraan dan Alumni PKn UPI
Akhir-akhir ini situasi kehidupan berbangsa dan bernegara di republik ini mulai didesas-desuskan isu tentang ideologi lain yang ingin menggantikan kedudukan Pancasila sebagai Ideologi dan dasar negara bagi bangsa dan negara Indonesia. Sebut saja Ideologi Islam (Khilafah) dan Ideologi Komunis.Hal ini bila tidak dicegah tentu akan berimplikasi pada mara bahaya dan mara bencana yang akan merong-rong kedaulatan bangsa dan negara Indonesia itu sendiri. Oleh sebab itu bidang pendidikan pun perlu untuk mengantisipasi ancaman nir-militer berdimensi ideologi ini. Dan salah satu ujung tombak dari upaya preventif itu adalah kehadiran daripada sosok guru. 


Guru adalah sosok yang digugu dan ditiru oleh murid-muridnya. Setiap apa yang diucapkan dan dilakukan guru, tak jarang itu pula yang oleh murid-muridnya perbuat. Hal tersebut karena guru merupakan inspirasi bagi kehidupan murid-muridnya. Oleh sebab itu, guru harus dapat menjadi teladan yang baik bagi murid-muridnya agar murid-muridnya dapat berkelakuan baik pula. 


Guru adalah teladan bagi kehidupan. Kehidupan yang harmonis merupakan tujuan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Sistem Ketatanegaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan dan bersendikan kepada Pancasila. Pancasila menjadi Ideologi dan Dasar negara bagi bangsa dan negara  Indonesia yang tidak dapat untuk ditawar-tawar lagi. Oleh karena itu, guru hendaknya mampu mengajarkan dan menampilkan perilaku yang selaras dengan Pancasila. 

Pancasila bersila lima yakni, pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, ketiga, Persatuan Indonesia, Keempat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, kelima, Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Kelima sila dalam Pancasila itu harus dapat terejawantahkan dengan baik oleh setiap warga negara Indonesia. Oleh karena itu, setiap warga negara penting untuk memperoleh orientasi tentang Pancasila secara baik dan benar. Disinilah peran dari guru-guru PKn untuk bagaimana cara supaya setiap warga negara Indonesia agar tidak sampai harus mengalami disorientasi Pancasila. 

Ketika setiap warga negara Indonesia memiliki pemahaman akan konsep Pancasila secara benar maka kemajuan peradaban bangsa Indonesia niscaya akan dapat tercapai. Akan tetapi, sebaliknya jika konsep Pancasila tidak secara benar dipahami oleh setiap warga negara Indonesia maka, tunggulah kehancuran akan segera tiba. Sungguh bila sampai Indonesia ini jatuh dan terpuruk lagi dalam penjajahan akibat ketidakpahaman warga negara Indonesia terhadap Pancasila tentu merupakan aib bagi guru-guru PKn di Indonesia. 

Guru PKn memiliki peran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. sebagaimana Wuryan dan Syaifullah (2008, hlm.16) mengemukakan bahwa Peran adalah “tingkah laku yang diharapkan ditampilkan sesuai dengan status sosial yang disandangnya”. Kemudian daripada itu, Ki Hajar Dewantara (dalam Apandi, 2015, hlm. 4) mengatakan bahwa peran guru adalah “Ing Ngarso Sung Tulodo (di depan memberi teladan),Ing Madya Mangun Karso (di tengah membangun kemauan), Tut Wuri Handayani (di belakang memberi dukungan moril)”. Dengan demikian, guru PKn mesti mampu untuk memberi teladan, membangun kemauan, dan senantiasa memberi dukungan moril kepada setiap peserta didiknya agar dapat menjadi smart and good citizenship.

Budimansyah dan Syam (2006) mengungkapkan seorang guru PKn perlu untuk memiliki keahlian dan kemampuan dalam membaca dan menklarifikasikan serta mengoperasionalkan keharusan kurikulum (the intended curriculum) dengan dunia tersembunyi siswa (the hidden curriculum) menjadi program pembelajaran yang layak (the proper curriculum)/ merancang sebagaimana keharusannya, membaca dan menklarifikasikan nilai-moral (isi pesan) disamping muatan konsep, teori, dan hukum serta keterampilan membelajarkan (engaging) seluruh potensi diri siswa secara utuh, bahan ajar dan sumber serta media ajar secara multidimensional (domain, gatra, dan waktu), lingkungan belajar fisik dan non fisik (local-regional-nasional dan dunia), membina dan melaksanakan proses kegiatan belajar sekolah (KBS) dan penilaian yang berkesinambungan secara multidimensional- terpadu dan joyful.

Agar mata pelajaran PKn disenangi dan berguna bagi siswa maka, guru PKn harus mempunyai sikap bersahabat, mau mendengarkan siswa serta demokratis disamping kemampuannya dalam menyusun bahan pembelajaran. Seperti apa yang dikemukakan oleh Somantri (1976, hlm.42) bahwa ada suatu aturan yang dapat dipertimbangkan oleh guru PKn untuk meningkatkan mutu pengajarannya agar karakteristik guru PKn yang dedicated and well informed teacher dapat terwujud, yakni sebagai berikut :
(1)   Sikap bersahabat, tidak agresif, kooperatif, demokratis, sopan dalam memperlakukan pelajar, tapi tetap dapat memilihara wibawa.
(2)   Menghargai pendapat, perhatian pelajar dengan jalan menunjukan adanya relevansi antara pendapat tersebut dengan tujuan pelajaran PKn.
(3)   Antusias terhadap bahan pelajaran yang sedang dibicarakan
(4)   Dapat memperkaya bahan pelajaran yang terdapat dalam buku dengan sumber-sumber majalah, surat kabar, cerita-cerita film, maupun hubungannya dengan bahan pelajaran
(5)   Dapat meragakan secara skematis bahan pelajaran dipapan tulis sehingga memungkinkan siswa untuk tertarik terhadap bahan pelajaran
(6)   Dapat merumuskan teknik bertanya yang dapat menimbulkan siswa untuk mengingat, berpikir, menilai, dan berfikir kreatif.
(7)   Dapat memberi jalan kepada pelajar untuk mendorong kegiatan-kegiatan menyelidiki bahan pelajaran sehingga siswa dapat memiliki keterampilan berfikir ilmiah maupun dapat menemukan sistem nilai yang positif bagi seorang warga negara. 

Oleh sebab itu, seorang guru PKn harus memiliki karakteristik sikap dan perilaku yang senantiasa bersahabat, hangat, komunikatif, demokratis, sopan dan santun terhadap peserta didiknya dengan tetap memilihara wibawa sebagai seorang guru yang cerdas, kreatif dan inovatif dalam pembelajaran PKn yang mencerdaskan dan menginspirasi peserta didiknya guna menjadikannya smart and good citizenship.

Guru PKn mesti dapat mengejawantahkan Pancasila secara jujur dan konsekuen dalam pengajarannya kepada peserta didiknya. Hal ini supaya peserta didiknya itu tidak mengalami disorientasi Pancasila, baik dari sisi ilmu maupun pengamalannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Affandi (2014, hlm.13) mengemukakan bahwa :
gerakan kembali kepada Pancasila tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi. Sebab, fenomena sosial kehidupan berbangsa dan bertanah air, semakin mengkhawatirkan. Globalisasi telah membawa bangsa Indonesia kepada Ideologi yang anomali. Di satu sisi, bangsa ini semakin tercerabut dari akal kultur ideologi yang menjadi ciri khas bangsa timur yang menjunjung tinggi nilai religius dan sangat menghargai kesantunan. Di sisi yang lain, bangsa ini berupaya menggapai ideologi lain yang seperti fatamorgana. Tampak jauh seperti mempesona, tapi sesungguhnya telah runtuh dimakan zaman dan tak teruji oleh sejarah.

Merujuk pada hal tersebut, dapat disimpulkan sementara bahwa kembali kepada Pancasila adalah sesuatu yang tidak dapat untuk ditawar-tawar lagi dan guru PKn menjadi pemandu warga negara untuk menggapai itu semua. Dengan terus memperbarui kapasitas dan kapabilitasnya serta memiliki kesadaran akan hal tersebut dengan terus belajar dan berlatih meningkatkan kompetensi yang harus dimilikinya niscaya guru-guru PKn akan mampu menjelmakan tanggung jawabnya sebagai guru bangsa. Semoga Allah SWT meridho’i.

Refernsi :
Affandi, I. (2014). Idrus Affandi “Pendidik Pemimpin Mendidik Pemimpin Memimpin Pendidik”. Bandung : Universitas Pendidikan Indonesia
Apandi, I. (2015). Guru Kalbu. Bandung : CV. SMILE’s Indonesia Institute
Budimansyah, D. dan Syam, S. (2006). Pendidikan Nilai Moral dalam Dimensi Pendidikan Kewarganegaraan. Bandung : Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) FPIPS-UPI
Somantri, N. (1976). Metode Mengajar Civics. Jakarta : Erlangga
Wuryan, S. dan Syaifullah. (2008).Ilmu Kewarganegaraan (Civics). Bandung : Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) FPIPS-UPI