Sambutan Kepala Madrasah

Rabu, 29 Maret 2017

Sihir Pesohor

Oleh: Prof. Dr. H. Karim Suryadi, M.Si.Peneliti komunikasi politik, dosen FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, kolumnis Pikiran Rakyat dan Dewan Penasehat IKA PKn UPI

Karim Suryadi (kedua dari kiri) bersama dosen PKn UPI dan pengurus MGMP
SAAT menghadiri workshop penguatan pendidikan karakter bagi guru-guru sekolah menengah di Sumedang, yang digelar Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Kewarganegaraan  dan Departemen PKn FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia, mata saya sempat disuguhi hamparan landscape pertanian yang memukau. Pesawahan yang menghijau terhampar berselang dengan pepohonan di huluwotan (bantaran di hulu air sawah). Di ujung penglihatan, berdiri kokoh Gunung Tampomas yang membiru, kokoh tapi anggun. Sayangnya, keasrian pemandangan khas pedesaan terganggu kehadiran baliho yang dipasang di pepohonan yang berderet di pinggir jalan.

Penasaran dengan pemandangan kontras tersebut, saat pulang saya mampir ke saung (dangau) di pinggir sawah di tepi jalan. Kebetulan ada petani yang sedang istirahat. Setelah pancakaki, beramah tamah kiri kanan, saya tanya siapa yang ada di baliho tersebut. Mang Uha, sang petani, menjawab “Jelema nu hayang jadi menak, hayang jadi gupernur cenah”. Ketika saya tanya lagi, yang mana yang mau dipilih, Mang Uha menjawab “Bingung, loba piliheun jadi barieuken”. Mang Uha pun tidak tahu, apa keunggulan masing-masing hingga merasa layak menjadi menak. Di ujung obrolan, Mang Uha tak kuasa menyembunyikan kekhawatirannya, “Emang mah paur, nu ting parucunghul teh miyuni pare hapa, pangheulana ngacung bari jeung euwuh eusian, mindingan pare nu beuneur leubeut ku eusi”

Kekhawatiran Mang Uha sesungguhnya kecemasa saya, Anda, mungkin yang lainnya juga. Sosok yang muncul dan tidak menunjukkan kapasitas yang terbaca, yang mirip padi hampa yang berdiri tegak menutupi batang padi dengan bulir penuh isi, pernah pula dikeluhkan Lily Tomlin, aktris Amerika yang memerankan Susannah dalam Admission, yang dirilis di Negeri Paman Sam dan Kanada pada 22 Maret tiga tahun silam. Satu waktu Tomlin pernah berujar, “Nine-eight percent of the adults in this country are decent, hard working, honest Americans. It’s the other lousy two percent that get all the publicity. But then, we elected them”. 

Dalam logika Mang Uha, 98 persen pedudukan Amerika yang santun, pekerja keras, dan jujur tertutup dua persen penduduk yang memilih siasat licik merengkuh publisitas, dan menggoda pemilih, atau bersekongkol dengan penguasa,  hingga menjatuhkan pilihan padanya. Lily Tomlin bukanlah artis yang apolitis. Pemeran Frankie dalam acara Grace and Frankie yang membawanya menjadi salah satu nominee dalam Outstanding Lead Actress in A Comedy Series tersebut, terlibat penggalangan dana untuk Obama.

Terlepas dari apa yang dikeluhkannya, nasib Tomlin dan pemilih lain di Amerika masih beruntung. Mereka hanya harus memilih kandidat presiden yang telah lolos pemilihan pendahuluan dengan syarat yang ketat. Untuk bisa diusung Partai Republik, John Mc Cain misalnya, harus melampaui dukungan minimal, yakni 1.191 delegasi yang dia himpun dari pemilihan pendahuluan di tiap negara bagian. Demikian juga Obama, kandidat yang pernah tinggal di kawasan Menteng Jakarta tersebut hanya bisa diusung Partai Demokrat setelah bersaing sengit dengan Hillary, dan   melampaui dukungan minimal 2.025  delegasi  dalam pemilihan pendahuluan di lima puluh negara bagian. Jadi, memilih kandidat mana pun adalah memilih calon yang sudah teruji di pasar politik, dan telah dinilai layak oleh ribuan delegasi yang mewakili pemilih.

Bandingkan dengan kesulitan yang dihadapai Mang Uha, saya, Anda, dan pemilih lain d tanah air, yang hanya bergumul di lumpur ketidaktahuan. Kita harus memilih calon yang dijagokan partai politik, tanpa kita ketahui kriteria yang membuatnya dinilai sebagai kandidat yang layak memimpin. Kita pun “dipaksa” memilih satu dari sekian kandidat yang biasa muncul di baliho atau iklan, tanpa menunjukkan satu alasan pun mengapa kita harus memercayainya.

Satu saja yang kita tahu, mereka yang maju memiliki kemauan politis yang direstui pimpinan partai politik di Jakarta. Kemauan inidvidual sang calon kemudian  dijual di ruang publik, dan dirasionalisasi dengan nilai-nilai yang relevan dengan keyakinan publik. Gencarnya publisitas makin menghokohkan hadirnya “sosok rekaan” seolah-olah sebagai sosok pujaan.  

Tak heran banyak elit partai berpaling ke kalangan pesohor. Daya pikat pesohor menyihir partai politik yang hampa kader. Dukungan terhadap pesohor mudah dikalkulasi, dan memasarkan pesohor diyakini lebih mudah ketimbang menjual mereka yang “bukan siapa-siapa”.

Ribuan penggemar dipandang sebagai modal, sekaligus hipotik penjamin sukses  maju dalam kandidasi. Meski deretan fans tidak otomatis bisa dialihkan menjadi dukungan di bilik suara, dan popularitas mereka tidak equivalen dengan kecakapannya memimpin, namun nama pesohor kerap muncul  dalam setiap perhelatan pemilu.

Anehnya, meski kerap dipertanyakan kapasitasnya, banyak calon berebut tempat dan jalan untuk menjadi pesohor. Istri petahana, selain didorong-dorong dalam “acara kantor” atau didaulat menjadi pimpinan organisasi bentukan pemda, juga nongkrong di baliho yang disebar hingga ke pelosok desa. Politisi yang berhasrat pun tak kalah gaya dengan artis, muncul di megatron layaknya foto model yang tengah menawarkan produk fashion. Inilah pemandangan yang mengotori penglihatan, hanya menegaskan apa maunya mereka, tanpa menyibak selubung misteri yang menutupi kapasitas dan kelayakan mereka.

Bagi banyak pihak, pemilihan gubernur layaknya kanvas kosong untuk menorehkan hasrat, kepentingan, dan apa pun yang mereka mau. Namun,  kita berharap ajang pemilihan gubernur tidak menjadi pentas adu kuat semata, layaknya dua serigala yang tengah bermusyawarah dengan seekor domba tentang pemimpin idaman mereka. Kita  pun tidak berharap pemilihan gubernur berubah wajah menjadi ajang audisi “idola imut”, yang menyulap penampakan fisik untuk menutupi gairah berkuasa yang menyala-nyala. Kita diingatkan William Henry Beveridge, hampir delapan puluh tahun silam, bahwa objek pemerintahan, dalam keadaan damai ataupun perang sekalipun, bukan memuliakan keagungan penguasa atau merayakan kehormatan kelas sosial tertentu, melainkan menjaga kebahagiaan orang-orang biasa.***

Sumber Tulisan: Kolom Pikiran Rakyat 
http://www.pikiran-rakyat.com/kolom/2017/03/28/sihir-pesohor-397309