Sambutan Kepala Madrasah

Rabu, 15 Februari 2017

Cerita Alwi Lutfi Menjadi Guru di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Malaysia

Oleh : Mohamad Alwi Lutfi, S.Pd., M.Pd.
Alumni PKn UPI Bandung, kini menjadi Guru di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur Malaysia
Saya lahir di desa Kalirahayu,  Losari, Cirebon, hanya anak petani yang jauh dari harapan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Sejak di bangku SMU Negeri 2 Cirebon saya bercita-cita ingin menjadi guru. Alhamdulillah,  Allah SWT memberikan jalan bisa kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada jurusan PMPKn tahun 2001. Pada umumnya mahasiswa tinggal di kost atau asrama, tetapi saya tinggal di Masjid Nurul Huda Ledeng, secara gratis tapi harus jadi tukang beberes masjid. 

Dalam perkuliahan, mendengar informasi bahwa ada alumni Civics Hukum UPI yang mengajar di Bangkok (kang M. Soleh) dan Singapura (Kang M. Alamsyah), sehingga menjadi inspirasi dan cita-cita bagi saya untuk menjadi guru di Sekolah Indonesia Luar Negeri, walaupun saat itu kemampuan bahasa Inggris dan prestasi akademik tidak sehebat teman-teman seangkatan seperti Dikdik Baehaqi Arif, Dedi Mulyadi dan Ai Ida Suraya.

Selain kuliah, aktif dalam kegiatan keagamaan di masjid Nurul Huda Ledeng dan Pondok Pesantren Daarut Tauhiid (beasiswa Abdikarya dari Misykat DPU Daarut Tauhiid dan Pelatih SSG DT tahun 2005-2007), sehingga saat lulus kuliah tahun 2006 tidak berusaha untuk melamar atau mencari pekerjaan sebagai guru. 

Atas berkat dorongan dan restu sang Ibunda, maka saya mencoba mengikuti tes guru bimbingan belajar Ganesha Operation, alhamdulilah ditempatkan di Karawang Jawa Barat mulai bulan November 2007.

Pada akhir tahun 2008 pendaftaran CPNS sangat memberikan peluang bagi lulusan Civics Hukum UPI, saya pun mengirimkan pendaftaran dari Karawang ke panitia seleksi CPNS Kabupaten Brebes Jawa Tengah. Akhirnya, mulai bulan Juni 2009 menjadi CPNS Guru PKn di SMPN 1 Banjarharjo kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Sesuai latar belakang organisasi dan kegiatan yang diikuti selama tinggal di Bandung, maka di sekolah langsung dipercaya menjadi pembina ekstra kurikuler Pramuka, Baca Tulis Quran (BTQ), dan Seni Kajian Islam.

Tugas lain di sekolah yang pernah menjadi tanggung jawab saya adalah antara lain Urusan Kesiswaan, Pembina OSIS, Ketua Penjamin Mutu Sekolah, Ketua Tim Pengembang Kurikulum Sekolah, dan Ketua KPRI “Keluarga”, dan mengikuti Kegiatan Lomba Guru Berprestasi mewakili sekolah untuk tingkat Kabupaten Brebes pada tahun 2015.

Selain kegiatan di sekolah, saya pun mengikuti kegiatan pengembangan diri dan perkumpulan organisasi profesi maupun masyarakat. Antara lain:
Ø  Pengurus MGMP PKn SMP Kabupaten Brebes, sebagai Seksi Umum tahun 2011-2013
Ø  Pengurus MGMP PPKn SMP Kabupaten Brebes, sebagai sekretaris II, tahun 2014-2016
Ø  Pengurus Ranting NU Desa Cigedog Kec. Kersana Kab. Brebes, sebagai Sekretaris, tahun 2012-2017
Ø  Pengurus MWC Nahdhatul Ulama Kec. Kersana Brebes, sebagai sekretaris II, tahun 2015-2020

Kegiatan-kegiatan sebagai guru PPKn di kabupaten Brebes antara sejak tahun 2012 selalu menjadi penyusun soal UTS, UAS, UKK, dan Ujian Sekolah tingkat kabupaten Brebes. Tahun 2014 mengikuti Diklat Instruktur Nasional Kurikulum 2013 Mata Pelajaran PPKn SMP di LPPKS Kemendikbud.
Kegiatan-kegiatan tersebut dilalui dengan semangat walaupun bersamaan dengan melanjutkan kuliah di prodi PKn SPs Universitas Pendidikan Indonesia pada tahun 2012-2014.

Dalam kegiatan Lomba Guru Berprestasi tahun 2015 di Kabupaten Brebes, hasilnya masih jauh dari harapan. Namun tidak kecewa, karena merasa masih jauh dari prestasi yang bisa dibanggakan. Pada hari yang sama dengan pengumuman hasil lomba Guru Berprestasi, melalui facebook guru SMAN 2 Cirebon (Alwi alumni tahun 2001) yang sedang mengajar di Sekolah Indonesia Bangkok mendapat info bahwa kalau ingin menjadi guru SILN, harus menghubungi dan mendaftar ke biro PKLN Kemendikbud.

Saya mencari info di internet tentang Biro PKLN dan pendaftaran guru SILN, mendapat info tentang surat pengumuman dari BPKLN Kemenidkbud yang dikirim ke Dinas Pendidikan Provinsi, hanya ada 1 formasi untuk guru PKn yang akan ditempatkan di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, adapun syarat untuk mengikuti seleksi adalah:
1. PNS dan Non PNS yang berusia maksimal 48 tahun.
2. Pengalaman mengajar minimal 5 tahun.
3. Memiliki kualifikasi akademik minimal S-1 Kependidikan.
4. Mampu berkomunikasi Bahasa Inggris secara lisan dan tulisan.
5. Melampirkan resume (CV), pas foto 4x6 sebanyak 2 lembar, dan sertifikat pendukung.
6. Surat Ijin dari atasan langsung
7. Memiliki keterampilan tambahan seperti olahraga, pramuka, seni budaya, keagamaan, prakarya, ICT, dll.

Setelah mendapat ijin dari Kepala Sekolah dan memenuhi syarat lainnya, tanggal 16 April 2015 mengirimkan pendaftaran ke BPKLN secara online maupun melalui pos. Berkas sertifikat pendukung yang dilampirkan sama dengan berkas yang disusun untuk mengikuti lomba guru berprestasi di Brebes (termasuk sertifikat-sertifikat penghargaan dan seminar yang pernah diikuti).

Tanggal 12 Mei 2015, ada email undangan seleksi dari BPKLN Kemendikbud dan menyatakan saya salah satu dari 120 Peserta Seleksi Calon Pendidik SILN Tahun 2015.

Pada hari Kamis-Sabtu tanggal 28-30 Mei 2015 mengikuti Seleksi di Hotel Century Park, Senayan Jakarta. Untuk PKn, ada delapan peserta yang berasal dari berbagai provinsi (Kalimantan Selatan, Jawa Tengah, Banten, Jawa Barat, Sumetara Selatan, Sulawesi Selatan, dll). Tes seleksi terdiri dari :
a)        Tes tertulis (bobot 40%), terdiri dari tes potensi akademik, psikotes, pedagogik, dan Bahasa Inggris.
b)        Micro teaching (bobot 40%), peserta seleksi menyiapkan RPP Kurikulum 2013 dengan alokasi waktu 15 menit.
c)        Wawancara (bobot 20%), tentang empat kompetensi guru dan motivasi mengikuti seleksi.

Pada hari pertama, kegiatan seleksi di awali pembukaan dan tes tertulis. Pada hari ke dua, micro teaching dan wawancara, di sela-selesa seleksi tersebut diumukan hasil tes tertulis (lembar jawaban dan nilai diserahkan ke peserta), sehingga kami semua langsung mengetahui nilai tes tertulisnya. Pada hari ketiga, pulang ke daerah masing-masing.

Saat seleksi tidak ada perasaan bersaing atau kompetisi, karena dari delapan peserta yang mengikuti tes untuk PKn, ada alumni UPI juga yaitu Kang Alam (M. Alamsyah, itulah pertama kalinya saya bertemu dengan beliau) dan Kang Deni Surya Permana (mantan Presiden HMCH), di sela-sela proses seleksi wawancara, kami bercengkerama dan mendapatkan motivasi dari Kang Alam.

Tiga minggu setelah tes (pertengahan Juni 2015), hasilnya diumumkan di website http://www.silnkemendikbud.org yang menyatakan saya lulus seleksi dan akan ditugaskan mulai 1 Juli 2016. Kemudian saya mendapatkan email dari BPKLN untuk melengkapi berkas-berkas keberangkatan ke luar negeri. Berkas tersebut antara lain:
a)        SK CPNS sampai terakhir
b)        DP3
c)        FC. Ijasah terakhir
d)       Formulir permohonan Paspor Baru (PNS menggunakan paspor dinas berwarna biru)
e)        SK Dipekerjakan dari Bupati.

Untuk persyaratan point a-d lancar tidak menghadapi kendala. Tapi untuk memperoleh SK PNS yang dipekerjakan dari Bupati sangat luar biasa.

Perlu diketahui istilah PNS yang diperbantukan dan dipekerjakan. Sesuai PP No. 9 Tahun 2003, PNS yang diperbantukan adalah PNS yang melaksanakan tugas di luar instansi induknya yang gajinya dibebankan pada instansi yang menerima perbantuan. Sedangkan PNS yang dipekerjakan adalah PNS yang melaksanakan tugas di luar instansi induknya, namun gajinya tetap menjadi beban instansi induknya dan pembinaan kepegawaian pun dilakukan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian di instansi induknya.

Proses birokrasi dalam pembuatan SK PNS dipekerjakan yang saya alami sekitar 6 bulan (Januari-Juni 2016, mengikuti prosedur dari BKD Kabupaten Brebes, mulai pembuatan kembali surat izin kepala sekolah, kepala dinas pendidikan kabupaten Brebes, sampai Nota Dinas dari BKD ke Bupati kabupaten Brebes.

Pertengahan Juni 2016 SK PNS Dipekerjakan dari Bupati dikirimkan ke BPKLN, saya pikir akan berangkat sesuai rencana yaitu 1 Juli 2016, ternyata butuh proses lagi yaitu SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk dasar mengajukan izin ke Kementrian Sekretariat Negara dan Kementrian Luar Negeri untuk pembuatan Paspor Dinas, dan visa dari Kedutaan. Semua proses di tingkat Kementrian dan Kedutaan diurus oleh Biro PKLN Kemendikbud.

Tanggal 29-31 Oktober 2016 mengikuti orientasi pendidik sekolah luar negeri di Jakarta yang diikuti oleh 35 calon guru yang akan mengajar di beberapa SILN (Moscow, Kairo, Singapura, Yangoon, Bangkok, Makkah, Riyadh, Jeddah, dan Kuala Lumpur, dan Kota Kinabalu), langsung dilanjutkan sampai tanggal 3 November 2016 Diklat Pengajar BIPA (Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing) pada Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan Kemendikbud di Sentul Bogor.


Alhamdulillah, tanggal 29 November 2016 berangkat tugas ke Sekolah Indonesia Kuala Lumpur. 

Demikian pengalaman saya, semoga banyak yang menyusul. Beberapa hal yang perlu disiapkan sebelum mendaftar seleksi adalah:
a)        Memiliki keahlian selain mengajar mata pelajaran PPKn (seni, IT, keagamaan, pramuka, prakarya, pencak silat, dll), dibuktikan dengan sertifikat dan piagam penghargaan.
b)        Sering buka laman kemendikbud, selama dua tahun ini seleksi guru di Luar Negeri dilakukan oleh dua pihak, yaitu Dirjen Dikdas GTK dan BPKLN Kemendikbud. Untuk Dirjen Dikdas GTK penempatan di CLC (Community Learning Centre di Ladang-ladang perkebunan Malaysia), sedangkan BPKLN untuk SILN yang ada di kota-kota besar 15 negara).
c)        Meminta izin dan restu keluarga (orang tua terutama sang Bunda, isteri, dan anak), nanti kalau diterima anak isteri akan dibawa ke tempat tugas.
d)       Izin dari Kepala Sekolah/Dinas Pendidikan setempat. Kalau Non PNS cukup izin Kepala Sekolah.

Salam dari Kuala Lumpur, 15 Februari 2016
Mohamad Alwi Lutfi, M.Pd