Sambutan Kepala Madrasah

Senin, 03 Oktober 2016

"Panacea" Kampanye

Oleh : Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si.   
Dekan FPIPS UPI   
Dewan Penasehat IKA PKn UPI 
 
KEMUNCULAN baliho kandidat di pinggir jalan dan di tempat-tempat umum di daerah yang akan menggelar pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak periode kedua 15 Februari 2017 tak luput dari perhatian mahasiswa. Saat berdiskusi tentang makna baliho dan arti kampanye bagi kandidat dan pemilih dalam kelas sosilogi politik terungkap gambaran satir.

Meski muncul jauh sebelum masa kampanye, kemunculan baliho tokoh yang menisbatkan dirinya dengan seleksi kepemimpinan di daerahnya tetap dibaca sebagai bagian dari kampanye. Sesuai dengan asal-usul katanya yang terhubung dengan kanvas, dalam ruang kampanye, kandidat bebas menggoreskan apa pun, termasuk sesuatu yang hanya dipahami dirinya, namun asing bagi calon pemilih.
 
Para mahasiswa, juga saya, tidak tahu latar belakang mereka yang nampang di baliho. Saya coba tanya mahasiswa yang tinggal di Kota Cimahi, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Bekasi (tiga daerah di Jawa Barat yang akan menggelar pilkada serentak 2017), jawabannya sama: menggelengkan kepala.
Para kandidat dikesani muncul tiba-tiba. Kecuali petahana, deposit politik (modal pengalaman yang relevan untuk menangani urusan yang akan menjadi kewenangannya) mereka tak terungkap. Lebih gelap lagi tentang alasan mereka maju dalam pilkada, dan untuk alasan apa pemilih harus menjatuhkan pilihannya kepada dia.
Dalam konteks seperti ini, wajar bila mahasiswa memaknai kampanye sebagai ruang narsis para calon kepala daerah. Ada juga yang menganggap sebagai jarum suntik yang berisi virus politik. Tak sedikit pula yang menganalogikannya dengan bimbingan tes, yang membantu mengatrol kesiapan murid menghadapi ujian.

Pengetahuan yang terbatas tentang calon membuat hari pemilihan bukan sesuatu yang ditunggu-tunggu. Keharusan memilih salah satu pasang calon di antara sekian pasang kandidat yang sama-sama tidak dikenal tak ubahnya Karnadi bandar bangkong yang disuguhi puding jeli, jangankan bisa menebak rasanya, lihat bentuknya saja baru, dan ketika mau disantap tidak bersahabat dengan sendok (Kisah lengkapnya dapat dibaca dalam buku "Rusiah Nu Goreng Patut", karena licin dan sulit dipotong-potong maka puding jeli tersebut "diselewegkeun", ditelan bulat-bulat).
 
Meski intensitas kampanye tidak berbanding lurus dengan hasil positif di ujung kontestasi, tim pemenangan menaruh perhatian serius dalam mempersiapkan masa kampanye. Bukan hanya membentuk tim kampanye, mereka pun merumuskan materi dan jenis pendekatan yang dibutuhkan, serta menugaskan tokoh-tokoh populis dan berngengaruh sebagai juru kampanye.
 
Namun yang mencengangkan, petahana yang akan kembali maju seolah tidak mau ketinggalan berebut tempat di pinggir jalan. Foto mereka pun dipajang, dengan ukuran yang tak kalah besar tak ubahnya pendatang baru. Apakah ini gejala petahana kurang percaya diri, mengokohkan ketokohan, atau sekadar ikut "menyosialisasikan" perhelatan politik lima tahunan di daerahnya?
 
Fakta hasil kajian komunikasi politik atau sosiologi politik konsisten bahwa kampanye bukan panacea (obat mujarab), meski kontribusinya tidak bisa dipandang remeh. Meski ada pemilih yang terpersuasi lewat kampanye, lebih banyak pemilih membuat keputusannya berdasarkan aspek-aspek yang tak terkait langsung dengan peristiwa kampanye. Dua aspek yang paling sering disebut adalah keterkenalan tokoh jauh sebelum kampanye, dan diskusi selepas kampanye terkait seorang tokoh. Dua aspek ini dapat dilihat dari fragmen kampanye Pemilu Amerika 1952.
 
Kehadiran Adlai E. Stevenson sebagai kandidat presiden yang diusung Partai Demokrat pada Pemilu Presiden Amerika 1952 mampu menghibur publik Amerika. Saat di panggung kampanye, Stevenson mahir mengolah kata dan tetap menjaga kesantunan perilakunya. Kehadirannya mengesankan sebagai sosok negarawan yang terpelajar.
 
Stevenson bukan hanya dikenal sebagai salah satu kandidat Presiden AS yang fasih berpidato, namun juga mampu menawarkan analisis mendalam mengenai beberapa masalah yang melilit negeri Paman Sam tersebut. Sayangnya, kecerdasan Stevenson tak cukup meyakinkan mayoritas pemilih.
 
Sebagian besar pemilih menjatuhkan keputusannya untuk Dwight D. Eisenhower, Panglima Tertinggi North Atlantic Treaty Organization (NATO), sekaligus sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam invasi D-Day dan mengalahkan teror Nazi. Meski tidak lebih spektakuler di panggung kampanye, Eisenhower lebih bergema namanya justru karena sepak terjangnya jauh sebelum masa kampanye. Bahkan jauh sebelum Pemilu 1952, Eisenhower pernah ditawari untuk maju dalam kandidasi Presiden AS namun menolak. Namun pada 1951, ia melepas topi bajanya, dan memutuskan maju dalam pemilihan Presiden Ameria, dan keluar sebagai pemenang.
 
Kemunculan Eisenhower menemukan momentumnya. Banyak calon pemilih mengindentifikasi Eisenhower sebagai mirip dengan anggota keluarga, atau representasi tokoh heroik yang menjadi pujaan mereka.

Mengapa pemilih lebih mudah terpersuasi pesan yang diterima di luar konteks kampanye? Di luar konteks kampanye, pemilih dapat berdiskusi dengan sesama pemilih secara personal, informal, dan dengan bias yang mudah dikenali. Pemilih paling tidak terpelajar pun tahu, pesan yang dibangun lewat kampanye sarat bias dan penuh dramaturgi. Karena itu, bagi pemilih pesan kampanye tak sebening kata yang dipertukarkan dalam seting alami, yang tanpa basa-basi, dan diyakini kejujuran maksudnya.
 
Kampanye bukan panacea. Kampanye pun bukan zat pemutih yang mampu menghapus noda sosial politik, atau kaca mata ajaib yang mampu menyulap realitas buram menjadi terang benderang. Kampanye hanya mengukuhkan realitas yang sudah terbangun.
 
Kiprah yang dirasakan publik jauh sebelum masa kampanye lebih meyakinkan ketimbang dramaturgi yang dipertontonkan selama kampanye. Bila Anda berniat maju dalam kadidasi jabatan publik, terlibatlah lebih intens dalam menangani masalah-masalah sosial di sekitar Anda. Meski teknik kampanye kian canggih, namun keperkasaannya takkan menandingi pelayanan sosial yang menyentuh warga, yang akan disimpan sebagai deposit di laci kartu suara mereka.***

Sumber Pikiran Rakyat