Sambutan Kepala Madrasah

Jumat, 15 Juli 2016

Muhamad Alamsyah, Dulu Aktif di Kabumi Kini Menjadi Staf Kedubes RI di Singapura

Oleh : Deni Kurniawan As’ari
Humas Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia

Muhamad Alamsyah saat tampil menjadi narasumber di KBRI Singapura
“Memang alumni PKn UPI mararantap, semoga menjadi penyemangat bagi yang lain,” demikian pernyataan dari Mohamad Alwi Lutfi dalam sebuah status di facebok IKA PKn UPI. Pernyataan guru SMP Negeri Banjarharjo Brebes ini memang benar adanya. Sebelumnya telah ditulis profil Muhamad Soleh,  alumni PKn yang menjadi pengajar di Sekolah Indonesia Bangkok (SIB). Sosok alumni lain yang tidak kalah menarik adalah Muhamad Alamsyah.

Muhamad Alamsyah bersama Kang Emil (Walikota Bandung) dalam suatu acara di KBRI Singapura
Ya, Muhamad Alamsyah kini menjadi staf di Kedutaan Besar RI di Singapura. Entah kebetulan atau tidak, pria yang lahir di Bandung, 7 Februari 1976 ini saat kuliah aktif di Kabumi atau Unit Kegiatan Mahasiswa Kabumi Universitas Pendidikan Indonesia (UKM Kabumi UPI). UKM ini lebih banyak berkecimpung dalam dunia seni terutama angklung. Nah, saat di Kabumi inilah suami dari Runtun Rima Ultima ini seringkali berkesempatan main angklung di Istana negara bahkan sempat  manggung di negeri sakura Jepang pada penghujung tahun 1997.

Diawali dengan Masa Perjuangan
Sebelum menikmati posisinya sekarang Kang Alam boleh dibilang memulai karir dari bawah. Selepas lulus dari PKn UPI ia menjadi guru honorer mulai tahun 1999 sampai 2000 dengan mengajar di tiga sekolah sekaligus. Saat masa perjuangan itu ia mengajar PPKn SD-SMP di SD Islam Miftahul Iman Bandung, mengajar PPKn di SMA Negeri 3 Bandung dan mengajar PPKn  di SM A  Puragabaya Bandung. Sungguh perjuangan yang tidak ringan. Mengajar di tiga sekolah sekaligus dalam satu waktu. Perjuangannya memang tidak begitu lama, namun masa perjuangan itulah yang justru pada akhirnya memberikan pengalaman yang berharga saat ia berkarir di Singapura.

Kang Alam mulai bekerja di Singapura sebagai pengajar di Sekolah Indonesia Singapura (SIS) mulai tahun 2001 sampai 2003. Kemudian dilanjutkan 2003 sampai 2006,  dan terakhir 2006 sampai 2009. Ia telah mengalami perpanjangan kontrak hingga tiga kali. Profesinya sebagai guru ia geluti  sampai tahun 2009. Selama mengajar di SIS, sempat mengajar mata pelajaran PPKn, Sosiologi, Tata Negara, Sejarah (SMA), IPS, Kesenian dan TIK (SD-SMP). Pada tahun 2007 sampai 2009 ia mendapat kepercayaan menjadi Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan. Kemudian pada tahun 2005 sampai 2009 mendapat tugas menjadi pengelola atau pengurus  Sekretariat Sanggar Budaya Indonesia Singapura (Koordinator Tari). Tepat tahun 2009 ia menjadi pegawai setempat pada bidang Administrasi KBRI Singapura. Mulai 2010 sampai sekarang beralih menjadi pegawai setempat pada fungsi penerangan sosial budaya selain itu menjadi kontributor di Majalah Indoconnex-Sun Media Pte Ltd, Harian Umum Kompas dan Pikiran Rakyat untuk rubrik promosi budaya Indonesia di Singapura.

Nah, ada cerita menarik ketika kontraknya sebagai guru telah selesai. Saat itu ia memutuskan untuk pulang kembali ke Bandung. Di tengah perjalanan mau pulang bertemu dengan Duta Besar Wardana pada tahun 2009  dan menawari  Muhamad Alamsyah menjadi staff di kedutaan. Menurut penilaian dubes saat itu , sosoknya selama menjadi guru memiliki kinerja yang baik dan telah memahami kultur budaya di Singapura. Akhirnya sejak 2009 sampai sekarang ia menjadi lokal staff Kedutaan Besar  RI di Singapura. Dewi fortuna rupanya sedang berpihak pada dirinya karena salahsatu syarat menjadi staff kedutaan harus memiliki ijin tinggal sebelumnya minimal 5 tahun. Muhamad Alamsyah memiliki syarat tersebut.

Pengalaman di Kabumi Menunjang Tugasnya
Menurutnya tugas yang diembannya  sekarang sebagai staff sangat ada kaitannya dengan pengalaman berorganisasi waktu di Kabumi UPI.  


“Saat ini saya ditugaskan di fungsi penerangan sosial budaya, yang salah satunya menangani promosi pariwisata dan kebudayaan. Banyak kesempatan untuk mengisi acara acara seni budaya, baik dari kalangan komunitas masyarakat yang tampil di acara Singapura, atau delegasi seni daerah di Indonesia yang tampil di Singapura, kami jembatani dari awal proses, tampil, sampai kembali dengan sukses,” ujarnya.

Bahkan tidak jarang ia diminta menjadi MC atau pemimpin doa dadakan di beberapa acara KBRI atau masyarakat Indonesia. Tugas lainnya yaitu sebagai seksi humas untuk pembinaan masyarakat, mendokumentasikan semua kegiatan dalam media sosial, majalah khusus masyarakat di KBRI (Indoconnect Magazine), dari mulai perencanaan, penggalangan massa/komunitas, meeting-merting, pembentukan panitia sampai mengolah tulisan, dan menjadikannya sebagai sebuah press release yang ditampilkan untuk publik di beberapa media, termasuk media di Indonesia seperti Kompas, detik, PR, MetroTV, TVONE dan lainya.

“Kegiatannya pun sangat banyak, mulai kegiatan pendidikan, keagamaan, gathering, seminar-seminar, sosial (charity), olah raga, dan lainnya. Intinya dari kegiatan formal, semi formal sampai acara fun pun kita bantu,” papar pria yang murah senyum ini.

Muhamad Alamsyah alumni PKn yang juga seorang fotografer
“Yang jelas hampir 250.000 masyarakat Indonesia berada di Singapura dan mereka  terbagi menjadi beberapa komunitas, dengan berbagai aktivitas dan karakter yang berbeda. Mereka memerlukan sosok yang bisa masuk kemana-mana” ungkap ayah dari Jazmy Izzati Alamsyah, Jazky Arfi Alamsyah, dan Arbiya Faiqy Alamsyah tersebut.

Kini, ia tinggal di sekitar komplek KBRI di Singapura bersama dengan keluarga. Istrinya yang baru saja menyelesaikan s2 UPI diberikan kesempatan bekerja di Rumah Budaya Indonesia di bawah Atase Dikbud dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Sebelum bersama, ia  sempat harus berpisah dengan isterinya  dari tahun 2009 sampai akhir 2015. Hal itu dikarenakan istrinya melanjutkan studi S2 di UPI sampai setelah lulus lalu sempat bekerja dan sampai akhirnya kembali mendampingi dirinya di Singapura bersama anak anak.

Kang Alam bercerita bahwa selama di Singapura banyak pengalaman positif yang ia peroleh terutama bagaimana untuk hidup lebih tertib, teratur, saling menghargai sesama perantau. Selama berada di Singapura cukup banyak koneksitas atau jaringan yang dapat dibangun, terutama yang berhubungan dengan pekerjaannya sebagai humas. Bahkan hikmah lainnya ia dituntut untuk melek IT, dan lebih optimistik menata masa depan Indonesia yang lebih baik. 

Tips untuk Adik Angkatan di Departemen PKn UPI
Muhamad Alamsyah beserta keluarga tercinta
Khusus untuk adik angkatan di departemen PKn UPI, Kang Alam memberi sejumlah tips jika ada yang ingin mengikuti jejaknya bekerja di kedutaan besar atau luar negeri.

“Pelajari dan kuasai kemampuan berbahasa Inggris dengan baik, bangun silaturahmi dengan teman teman di mana pun. Selanjutnya perbanyak aktifitas positif dan jangan suka membuang-buang waktu untuk kegiatan yang tidak bermanfaat. Berikutnya rajin membaca termasuk informasi aktual yang bermanfaat di lingkungan pergaulan, terutama wawasan global dan universal. Terakhir yang tidak kalah penting adalah rajin berolah raga,  beribadah dan berdo’a.

Ada yang menarik dari sosok ini. Ia yang lulusan PKn UPI namun saat ini dipercaya untuk mengelola website portal Kementerian Luar Negeri Singapura dengan alamat www.kbrisingapura.sg sebagai webmaster official. Maka, menjadi benar adanya pernyataan Mohamad Alwi Lutfi di awal tulisan ini bahwa memang alumni PKn itu mararantap.

Apakah Anda setuju dengan pendapat Pak Alwi tersebut?