ika

Sambutan Kepala Madrasah

Rabu, 26 Juni 2019

Ratna Febriyanti: Saya Tak Menyangka Lolos Tes CPNS

www.ika-pkn-upi.org | "Saya tidak menyangka bisa lolos tes CPNS karena merasa belum belajar maksimal. Tapi, alhamdulillah ternyata Allah kasih rezeki," demikian aku Ratna. Saat ada tes SKD ia masih disibukkan dengan akreditasi SMA di tempatnya mengajar.  Pada tanggal 2 dan 3 November akreditasi, tanggal 4-nya mengikuti tes SKD. 

"Qodarullah, asalnya tidak lolos karena nilai TKP kurang 5 poin dari passing grade. Setelah dirangking masuk peringkat 2 sehingga bisa lanjut tes SKB," terangnya. Ratna  secara jujur mengakui saat mau tes SKB juga belum belajar maksimal karena ia kembali disibukkan dengan penilaian kinerja kepala sekolah dan ia dipercaya menjadi anggota tim. Tanggal 9 PKKS, kemudian  tanggal 10 harus sudah di Bandung untuk tes. 

"Alhamdulillah,  ternyata saat tes SKB,  Allah kasih pertolongan dengan mendapat peringkat 1. Nilainya  375 sehingga bisa lolos," ujarnya.

Seperti yang diketahui bersama. Ratna merupakan alumni PPKn yang meraih nilai cumlaude [nilai IPK 4.0) pada wisuda tahun lalu.  Menurutnya  tak ada keistimewaan khusus dari panitia kepada dirinya yang memiliki prestasi cumlaude. Rupanya seleksi CPNS tahun 2018 berbasis CAT, sehingga lulus atau tidaknya berdasarkan pada akumulasi nilai SKS dan SKB. Di samping itu Ratna ikut jalur formasi umum, karena di Pemkab Cirebon untuk posisi guru PKN ahli pertama hanya membuka jalur umum, tak dibuka jalur cumlaude.


Ratna bercerita soal-soal  SKD banyak yang di luar prediksi dan cebderung soalnya membingungkan bahka menjebak. Banyak peserta yang nilainya kurang dari passing grade termasuk dirinya.  Untuk soal SKB Ratna berhasil mengerjakannya. Dari total 100 soal (25 pedagogik dan 75 soal PPKn) ia selesaikan dengan baik. "Walau saya kurang belajar maksimal, tapi 75 soal PKN ini soal dari kelas 7-12 dan saya mengajar semua dari kelas 7-12. Jadi ternyata Allah memberikan kemudahan dengan mengajarkan kepada anak2 secara tidak langsung ternyata saya sudah belajar."

Ratna berpesan kepada kakak angkatan yang belum lulus untuk tetap semangat. Belajar yang maksimal. Tapi dari semua itu harus juga diperkuat dengan doa, terutama doa kedua orang tua. Ia menambahkan untuk terus berbuat kebaikan karena kita tidak tahu kapan Allah membalas kebaikan kita. 


"Seperti yang saya alami, saya sibuk mempersiapkan akreditasi dan membantu sekolah dan Allah beri kemudahan di setiap tesnya," papar gadis asli Cirebon tersebut. 

Menurutnya jika belum lulus CPNS, harus miliki mindset bahwa pekerjaan tidak hanya jadi PNS. Apapun asalkan halal dan memberikan manfaat kepada orang lain InsyaAllah berkah. Setiap orang sudah Allah tetapkan rezekinya tinggal berusaha.
Ratna berbagi kebahagiaan bersama teman-teman di SMP Satap

Ratna yang pada Juli 2018 diwisuda itu, kini resmi menjadi ASN dan ditempatkan di SMP Satap Negeri Karangsembung, Cirebon. Prestasinya patut diacungi jempol.

Selamat dan sukses untuk Ratna. Semoga akan menginspirasi dan memotivasi para alumni PPKn UPI untuk terus belajar dan berkarya. 
***

(DKA-IKAPKNUPI)

Selasa, 05 Maret 2019

IIP HIDAJAT Dipercaya Jabat Kabiro Umum Setda Jabar

IIP HIDAJAT saat mendapat ucapan selamat dari Gubernur Jabar Ridwal Kamil
www.ika-pkn-upi.org | Dr. Drs. H. R. IIP HIDAJAT, M.Pd yang juga Ketua Umum Ikatan Alumni PKn UPI resmi menjabat sebagai Kepala Biro Umum di Sekretariat Daerah Jawa Barat. Ia bersama 13 pejabat tinggi pratama lainnya dilantik oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil di Gedung Sate di Jalan Diponegoro, Rabu (6/3/2019). 

IIP merupakan salah satu pejabat tinggi pratama hasil lelang jabatan terbuka yang dilakukan Gubernur. Sebelumnya IIP menjabat Ketua Bidang di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Provinsi Jawa Barat.

Alumnus PKn UPI angkatan 1984 ini sejak 2013 menakhodai Ikatan Alumni PKn UPI. Ia didampingi oleh Prof. Dr. H. Cecep Darmawan selaku sekjen.

Dihubungi melalui sambungan telpon, Cecep Darmawan menyambut gembira atas pelantikan tersebut. 

"Alhamdulillaah.. semoga berkah dan sukses selalu. Turut bersyukur ada alumni PKn UPI yang mendapat kepercayaan menjadi pejabat di Gedung Sate," ungkapnya.

Selasa, 15 Januari 2019

BAHAYA LATEN KORUPSI (DANA PENDIDIKAN)

Oleh: Tubagus Saputra
Pegiat Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia


Korupsi Dana Pendidikan
Ketika negara jepang hancur akibat peristiwa bom atom pada Perang Dunia ke II, Kaisar Hirohito menanyakan kepada rakyatnya ada berapa guru yang tersisa di negaranya. Suatu tindakan yang bukan tanpa alasan berarti, melainkan sungguh tindakan pengambilan keputusan tindakan yang cerdas yang dilandasi oleh keinsyafan kepada betapa pentingnya Pendidikan. Lewat jalur Pendidikan itu lah Jepang kembali memulai peradabannya, bahkan kini Jepang menjadi negara termaju di dunia. Jika dan hanya jika melalui Pendidikan, suatu Peradaban itu bisa kembali di bangun.
Pendidikan menjadi pilar kehidupan. Suatu kehidupan mungkin saja suram dengan adanya pendidikan, akan tetapi lebih suram lagi jika tanpa adanya pendidikan. Betapa negara yang bagus sistem pendidikannya akan menghasilkan kehidupan warga negara di dalamnya pun relatif lebih baik daripada yang tidak. Sebut saja misalnya, negara Finlandia yang termashur karena kepopuleran sistem pendidikannya yang terbaik di dunia sehingga kehidupan warga negara di sana relatif lebih baik meski pun tidak seadidaya negara USA atau Rusia, tetapi warga negaranya hidup dalam kondisi berkecukupan. Oleh karena itu, tidak heran jika negara selalu memasukan pendidikan ke dalam agenda penyelenggaraan negaranya.
Lain di Finlandia lain pula di Indonesia. Di Indonesia faktanya justru bidang pendidikan menjadi komoditi terpanas dalam konteks korupsi. Seperti dikatakan  oleh wakil ketua KPK Basaria Pandjaitan bahwa fakta yang ada di KPK menemukan 20 persen dari APBN merupakan anggaran pendidikan yang tidak bisa tidak untuk bebas dari kontaminasi korupsi, baik di tingkat provinsi maupun tingkat kabupaten/kota. (Di Kutip dari sumber detiknews, edisi 19 Maret 2018). Terbaru adalah kasus perbuatan korupsi yang dilakukan oleh Bupati Cianjur, Jawa Barat, Irvan Rivano Mochtar atas dugaan menerima suap dana alokasi khusus (DAK) menjadi salah satu bukti bagaimana kepala daerah masih saja terjebak kilau-kilauan dan manisnya dana pendidikan.  Sehingga dapat disimpulkan sementara bahwa tanpa tedeng aling-aling pendidikan di Indonesia terhambat kemajuannya akibat ulah segelintir oknum yang memiliki kekuasaan memonopoli dan mengambil keputusan tetapi lemah rasa tanggung jawab terhadap keselamatan nasib bangsa ke depan. 

Pesan Pendidikan
Merujuk catatan Indonesian Corruption Watch, terungkap bahwa selama kurun waktu 2006-2015, ada sekitar Rp 1,3 triliun dana pendidikan yang dikorupsi. Sepanjang tahun itu pula, ada 425 kasus yang masuk kategori korupsi. Bahkan, ada 17 objek yang menjadi sasaran korupsi. Di antaranya, sarana dan prasarana sekolah. Tingginya angka temuan tersebut mengonfirmasi bahwa negeri ini tengah didera oleh ancaman darurat korupsi pendidikan. Sektor pendidikan tidak hanya menjadi simpul utama dalam mencerdaskan generasi bangsa, tetapi juga menjadi ladang basah bancakan korupsi. Bagaimana tidak, dengan kucuran dana anggaran pendapatan belanja negara (APBN) yang mencapai hingga 20 persen, tentu menjadi kue menjanjikan bagi calon koruptor. Bahkan, bagi calon koruptor, kebijakan di dunia pendidikan akan terus dikuliti demi keuntungan tunggal (Di Catut dari sumber  Republika.co.id edisi, Kamis 20 Desember 2018).
Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, Prof. Dr. Cecep Darmawan, M.Si.,M.H mengatakan bahwa pendidikan pada hakikatnya berupaya mengalihkan generasi muda dari kondisi kegelapan menuju pencerahan, dari kebodohan dan kedunguan menjadi pencerdasan dan literasi. Pendidikan pun sekaligus akan meningkatkan nurani dan akal sehat . nilai-nilai pendidikan sejatinya akan melawan nilai-nilai koruptif (sumber : Pikiran Rakyat, Edisi Sabtu 22 Desember 2018). Oleh karena itu, Semestinya pendidikan terbebas dari tindakan korupsi, baik secara institusi maupun praktiknya, sebab bidang pendidikan merupakan garda terdepan untuk mendidik anak-anak bangsa.
Terakhir, penulis ingin menutup dengan pernyataan bernada satir dengan harapan timbul keinsyafan untuk tidak lagi ada pihak-pihak yang berkehendak untuk mengkorupsi dana pendidikan sebagai berikut : Peradaban lahir karena pendidikan. Tetapi Pendidikan juga merupakan lahan yang amat basah untuk korupsi. Korupsi itu semacam penyakit sosial yang merusak peradaban. Maka dengan demikian, untuk menghancurkan peradaban suatu bangsa. Korupsi saja dana pendidikannya.
Semoga Pendidikan bangsa ini, diridhoi oleh Allah Swt.  

Referensi :
Surat Kabar Pikiran Rakyat, Edisi Sabtu 22 Desember 2018

Sabtu, 12 Januari 2019

Aa Nurdiaman Langganan Jadi Penulis Soal PPKn Tingkat Nasional

AA (tengah berkemeja kuning kotak) bersama guru penulis soal lainnya

www.ika-pkn-upi.org | AA Nurdiaman atau dikenal dengan Aa dua tahun berturut-turut terpilih menjadi penulis soal PPKn. Ia berhasil lolos dalam proses seleksi ketat yang diadakan oleh  Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). 

Menariknya Aa sendiri bukan guru PPKn di SMP, SMA, atau SMK melainkan di MTs. Sehingga ia menjadi satu-satunya penulis soal dari madrasah. AA sendiri saat ini guru PNS di MTs Negeri 13 Ciamis, Jawa Barat.

Alhamdulillah, saya lolos seleksi tahap pertama (seleksi administrasi) pada Sistem Inovatif Aplikasi Penilaian (SIAP). Selanjutnya tahap kedua seleksi substansi/materi berupa penugasan sejumlah indikator,” ujar suami Lina (Geografi UPI 96) itu.

Ia menambahkan terpilih menjadi penulis soal PPKn sejak tahun 2017. Awalnya  mendapat informasi seleksi dari seorang teman. “Bersyukur jadi penulis soal sehingga menambah wawasan terkait penulisan soal yang baik. Selain itu bisa bertemu dengan guru-guru penulis soal lain dari berbagai penjuru tanah air,” terangnya.

AA merupakan alumni PKn angkatan 94 atau seangkatan dengan Lukman Surya Saputra dan Ida Rohayani. Saat menjadi mahasiswa PKn UPI, ayah dari Haya Fathin dan Mohammad Fathan ini pernah menjabat sebagai Ketua Umum Senat Mahasiswa FPIPS UPI periode 1996-1997.

Deni Kurniawan Asari/Ikapknupi


Kamis, 03 Januari 2019

DR. HERMAN EKA PERMANA Alumni Angkatan 83 Meninggal Dunia

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun.
Keluarga besar IKA PKn UPI turut berdukacita yang dalam atas meninggalnya:
 

DR. H. HERMAN EKA PERMANA bin M. Idik Sastraatmaja (Alumni PKn angkatan 83. Usia 55 tahun (suaminya DINI DUNGCIK). Pada pukul : 01.00 WIB
Alamat : Jl. Srijaya negara Lrg. Hasan As Bukit Lama Palembang.
Jenazah akan di kebumikan hari ini di Nagasewidak Plaju Palembang setelah shalat Jum'at.

Semoga almarhum meninggal dalam keadaan husnul khatimah dan diampuni segala dosa-dosanya serta diterima segala amal kebaikannya dan keluarga yang berduka Allah swt beri kesabaran serta keikhlasan.


Apabila almarhum semasa hidupnya ada kesalahan dan kekhilafan mohon perkenan untuk dimaafkan.
 

Terimakasih.
Wassalamu'alaikum.

Senin, 26 November 2018

Yuyus Kardiman Jadi Narasumber Workshop di Universitas Palangkaraya

Yuyus Kardiman (paling kiri) saat tampil menjadi narasumber
Alumni PKn UPI angkatan 1993 yang juga dosen Universitas Negeri Jakarta, Yuyus Kardiman belum lama ini menjadi narasumber workshop. Ia menyampaikan materi tentang Penguatan Pendidikan Pancasila bagi para dosen MKU di Universitas  Palangkaraya.

Tema worskhop bertajuk "Pengembangan Model Kolaboratif Proyek Melayani Berbasis Nilai Huma Betang  pada Aplikasi Tabela Sebagai Strategi Memperkuat Kohesi Nilai-nilai Pancasila"

Mantan aktifis kampus tersebut seringkali tampil pada acara seminar atau workshop pada kegiatan dosen, guru, dan mahasiswa. Dalam forum MGMP PPKn Yuyus juga sering menjadi instruktur dengan materi inovasi pembelajaran PKn.